July 11, 2010

[Wawancara] Ilham Habibie: Saatnya Lampung Bangkit

HARUS diakui, potensi dan keunggulan provinsi ujung selatan Sumatera sangat beragam. Yang paling menonjol adalah potensi agroindustri dan kelautan. Namun, potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, Lampung terpuruk menjadi provinsi termiskin ketiga di Pulau Sumatera.

Ilham A. Habibie, anggota Dewan pakar iptek dan teknologi informasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) (LAMPUNG POST/SAIFULLOH)

Berbagai potensi Sang Bumi Ruwa Jurai, jika diolah secara optimal, bisa menempatkan provinsi ini sebagai daerah terkaya tidak hanya di Sumatera, tetapi juga di seantero negeri. Secara tersirat, optimisme itu diungkapkan anggota Dewan pakar iptek dan teknologi informasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Dr. Ing. Ilham A. Habibie MBA saat berkunjung ke Lampung dan singgah ke Lampung Post, Kamis (8-7).

Ilham Habibie mengatakan saat ini potensi yang ada di Lampung, terutama sumber daya alam, diekspor dalam bentuk mentah. Akibatnya, masyarakat Lampung tidak menikmati nilai tambahnya. Kinilah saatnya Lampung memberikan nilai tambah dengan mengolah potensi alam yang dimiliki, dengan membangun berbagai cluster industri.

Dengan begitu, diharapkan berbagai perusahaan yang akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat tumbuh. Ibarat pepatah ada gula, ada semut; di mana ada lapangan kerja, di situ orang akan berkumpul.

"Terus terang, saya baru pertama kali datang ke Lampung, tapi saya sudah mendengar berbagai potensi yang dimiliki Lampung. Lampung berhasil mengelola transmigrasi sehingga daerah ini tumbuh dengan pluralisme dan dinamis," kata Ilham Habibie dalam diskusi bersama Pemimpin Umum Lampung Post Bambang Eka Wijaya, Wakil Pemimpin Umum Djadjat Sudradjat, Pemimpin Redaksi Sabam Sinaga, Wakil Pemimpin Redaksi Heri Wardoyo, dan jajaran redaksi Lampung Post.

Ikut bersama rombongan Ilham Habibie, antara lain Ketua ICMI Lampung Muhajir Utomo dan Ketua ICMI Bandar Lampung Kherlani.

Berikut beberapa petikan diskusi.

Bagaimana mengoptimalkan potensi yang ada di Lampung itu?

Potensi Lampung yang paling besar saya lihat mulai dari agroindustri dan perikanan. Namun, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk barang primer atau bahan mentah. Kita bisa memberikan nilai tambah bagi potensi sumber daya alam yang ada di Lampung. Hal itu dilakukan dengan mendirikan berbagai cluster industri yang saling mendukung. Dengan adanya cluster industri ini nantinya akan tersedia lapangan kerja sehingga akan memunculkan transmigrasi tahap kedua. Perpindahan penduduk itu bukan untuk mendapatkan lahan atau tanah, melainkan untuk menyediakan lapangan pekerjaan.

Infrastruktur di Lampung, terutama jalan, sangat memprihatinkan karena anggaran belum berpihak pada masyarakat?

Kalau soal anggaran, semua orang tahu, memang segmentasinya, fisik, jalan. Kita tahu masalah di Lampung adalah tanah, tumpang tindih di sini di situ, tidak jelas, administrasinya tidak rapi. Ini masalah generik. Saat ketemu Sekprov Lampung, dia bilang kalau ada sepuluh masalah di Lampung, tujuh di antaranya itu masalah tanah.

Siapa pun yang menjadi pimpinan di daerah itu, masalahnya itu-itu saja. Masalah itu juga tidak bisa kita selesaikan dalam sekejap. Memang semua harus dimulai dengan kesadaran, secara konsekuen, dan kadang-kadang perlu keberanian untuk membuat keputusan yang mungkin tidak populer.

Saya kira itu salah satu sifat pemimpin yang sejati, peduli kepada kekuasaan, tapi kekuasaan bukan satu-satunya hal, yang penting kita menyelesaikan masalah. Kita jangan hanya menganut pada popularisme. Yang populer yang kita buat.

Ya, saya kira kita bisa menganut pandangan seperti itu. Tetapi sebagai pemimpin negara, kita harus mampu menunjukkan bahwa kita mampu menyelesaikan masalah. Masalah itu kadang-kadang tidak semuanya populer.

Persoalannya, hampir tidak ada keinginan politik untuk menyelesaikan berbagai masalah?

Masalah tantangan ke depan, sebagian political will bergantung pada pemangku jabatan dan bergantung bagaimana will itu diaspirasikan melalui saluran-saluran yang ada buat rakyat, melalui media bisa saja. Setiap minggu diusulkan hal-hal yang harus diselesaikan. Itu lambat laun siapa pun akan sadar dan mereka mengetahui ini benar-benar kemungkinan yang secara realistis harus diselesaikan.

Itu baru bagian pertama. Setelah itu harus dibuat regulasi. Aparat yang menerapkan regulasi itu dengan baik dan benar. Itu pendidikan penting. Setelah itu, perlu adanya infrastruktur dan ini sangat memerlukan waktu. Namun kalau semua itu bisa kita lakukan dengan baik dan benar, saya kira 10 atau 15 tahun gambar Lampung akan berbeda sekali dengan saat ini.

Agar industri di Lampung kuat dan memberikan daya dukung, apa yang harus dilakukan?

Memang, karena mix, sektor primer sudah lumayan kuat. Setiap sektor pasti ada up and down. Itu jelas. Tapi secara prinsip, ada. Dari segi institusi pendidikan mestinya ada sinergi. Jika nanti industrinya berkembang, mereka ada kerja sama yang erat dengan pendidikan, yang dua-duanya bisa saling mendukung. Industrinya mengenalkan kepada institusi pendidikan agar menciptakan yang diperlukan. Keduanya, sebagian dari proyek mereka di-outsourcing ke pendidikan.

Ini contoh dari Jerman yang boleh ditiru. Kalau di Jerman, profesornya itu selalu harus punya karier. Tidak mungkin mereka bisa menjadi profesor kalau tidak membikin sesuatu hitam di atas putih. Mengapa? Agar sesuatu yang diajarkan itu sesuatu yang realistis.

Di Indonesia (hal itu) tidak gampang. Saya tidak menyalahkannya karena di sini industrinya belum kuat. Tapi memang, ke depan, itu sangat perlu. Kekuatan industri Jerman itu sangat solid. Mereka membuat sesuatu yang berkualitas tinggi itu karena kerja sama dunia industri dengan pendidikan sangat erat.

Saya pernah bekerja di industri Jerman dan saya pernah menjadi dosen di Jerman selama enam tahun. Tiga tahun pertama itu saya mengerjakan proyek-proyek dengan industri. Mereka dengan senang hati memberi proyek kepada dosen dan nanti dosennya memberikan proyek kepada mahasiswanya.

Dengan demikian, mahasiswa begitu lulus, dia siap pakai, karena dia sudah kenal industrinya, langsung link and match. Kalau ditanya mengapa industri di Jerman kuat, itu karena eratnya kerja sama antara dunia pendidikan dan industri. Tapi di Indonesia hal itu masih sulit karena kita masih berkembang.

Mengenai cluster, harus mencakup industri pendidikan sehingga kita mempunyai SDM yang berkualitas, tidak hanya perguruan tinggi, tetapi juga SMK dan SMA. Itu harus dikaitkan sehingga terjadi suatu sistem. Secara organik kita menyiapkan industri kita bersama dengan pendidikan. Kita bisa menciptakan berbagai cluster yang unggul. (UNI/P-1)


Rendah Hati dan Santun


SAAT berkunjung ke Lampung dalam Musyawarah Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Lampung, Ilham Akbar Habibie asyik mengobrol dengan semua peserta. Bahkan, ada beberapa peserta yang sama sekali tidak mengenalnya tampak akrab mengobrol.

Ilham Habibie (tengah) saat berdiskusi di Harian Lampung Post, Kamis (8-7). (LAMPUNG POST/SAIFULLOH)

"Saya baru tahu kalau yang mengobrol dengan saya tadi Ilham Habibie setelah dia duduk di podium depan. Dia sangat rendah hati dan santun," kata Hesma Eryani, salah satu pengurus ICMI Lampung.

Ilham Akbar Habibie lahir pada 16 Mei 1963 di Aachen, Jerman. Ilham merupakan anak pertama dari pasangan Bucharuddin Jusuf (B.J.) Habibie dan alm. Hasri Ainun Besari. Bagi Ilham Akbar Habibie, besar di luar negeri di satu sisi merepotkan, tetapi di sisi lain sangat menguntungkan. Sebab, kebiasaan membaca dan mendapatkan bahan bacaan sangat didukung oleh pemerintah.

Ilham Akbar Habibie tumbuh sebagai anak yang menyukai beragam bacaan. Hasilnya, dia berhasil menjadi ilmuwan dan pengusaha. Dia bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah berupa Bintang Satyalancana Wira Karya dan Adikarsa Pemuda atas prestasinya.

Dia suka macam-macam buku. Selain buku teknik dan bisnis, Ilham juga menyukai buku fiksi dan filsafat. Fiksi ilmiah yang sangat disukai adalah Da Vinci Code karya Dan Brown.

Jebolan Phd dengan predikat summa cum laude dari Technical University of Munich, Jerman, itu mengakui Dan Brown mampu membuat novel yang menghibur.

Namun lebih dari itu, dalam setiap karya Brown, Ilham mengaku selalu mendapatkan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Ini mendukung kesukaannya untuk selalu meningkatkan pengetahuan. Sayangnya, saat ini Ilham termasuk orang yang sangat sibuk. Tak hanya memegang sejumlah posisi penting di beragam perusahaan swasta dan pemerintah, dia juga masih tetap memimpikan pesawat rancangannya mengudara.

Akibatnya, tak setiap hari dalam kesibukannya Ilham bisa menyempatkan diri untuk membaca buku. "Sekarang memang tidak bisa setiap hari baca buku. Tetapi bisa saya pastikan sekurang-kurangnya dua hingga tiga buku yang tebal pasti diselesaikan dalam sebulan."

Tentu saja, selain karya Brown yang mencuri hatinya, karya Pramudya Ananta Toer yang memukau pembaca di seluruh dunia dan pernah diharamkan oleh Orde Baru pun dia lahap.

Menurut dia, buku-buku Pram sangat menarik sebab selain cara penulisannya sangat baik, dari novel-novel tersebut sangat jelas terlihat penguasaan Pram yang mendalam terhadap hal-hal yang ditulisnya.

Ilham banyak menemukan hal-hal yang sering sebelumnya tidak diketahuinya karena tidak pernah dibahas dalam buku sejarah�meski tak dapat dihindari aspek politis masuk dalam karya-karya Pram.

Ilham juga termasuk penggemar cerita-cerita kriminal yang menegangkan dan memaksa orang berpikir, salah satunya karya Jan Willem van Witering asal Belanda. Menurut Ilham, penulis itu tak hanya mahir menulis novel cerita detektif yang rumit, tetapi juga selalu berusaha memandang setiap persoalan yang terjadi dengan falsafah Buddha yang harmonis dan humanis.

Di matanya, karya Van Witering unik sebab setiap kasus tidak dilihat siapa pelakunya, tetapi alasan pelaku melakukan tindakan tersebut.

Novel setebal bantal pun dia lahap. Sebut saja karya Umberto Eco dari Italia yang spesialis novel sejarah seperti Enemy of the Rose yang menceritakan betapa sulitnya mendapatkan pendidikan di Eropa pada abad pertengahan saat hierarki otoriter gereja berkuasa. (SRI WAHYUNI/P-1)

Biodata

Nama lengkap : Ilham Akbar Habibie

Tanggal lahir: 16 Mei 1963

Tempat lahir : Aachen, Jerman

Ayah : Bucharuddin Jusuf Habibie

Ibu : Hasri Ainun Besari (alm.)

Pendidikan : Doktor Ingenieur dari Technical University of Munich, Jerman.

MBA School of Business dari University of Chicago.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Juli 2010

No comments:

Post a Comment

Post a Comment